Di antara salah satu aspek keimanan kepada Allah adalah mengimani keberadaan-Nya. Mengimani keberadaan Allah berarti meyakini dengan keyakinan yang kuat bahwa Allah itu ada tanpa keraguan sedikit pun. Keyakinan ini bukan tanpa landasan. Justru keyakinan ini dilandasi oleh beberapa landasan yang kuat sebagai berikut :
A. Fitrah yang Lurus
Mengimani keberadaan Allah adalah fitrah yang tertanam di dalam jiwa setiap manusia. Setiap manusia yang dilahirkan pasti akan mendapati di dalam jiwanya keyakinan akan keberadaan sang Pencipta alam semesta. Disadari maupun tidak, keyakinan ini pasti ada dalam hati mereka meski tanpa melalui proses pembelajaran sebelumnya. Sebab, fitrah tersebut telah Allah tanamkan ketika menciptakan mereka. Allah subḥānahū wa ta‘ālā berfirman :
فَأَقِمۡ وَجۡهَكَ لِلدِّينِ حَنِيفٗاۚ فِطۡرَتَ ٱللَّهِ ٱلَّتِي فَطَرَ ٱلنَّاسَ عَلَيۡهَاۚ لَا تَبۡدِيلَ لِخَلۡقِ ٱللَّهِۚ ذَٰلِكَ ٱلدِّينُ ٱلۡقَيِّمُ وَلَٰكِنَّ أَكۡثَرَ ٱلنَّاسِ لَا يَعۡلَمُونَ ٣٠
Maka, hadapkanlah wajahmu dengan lurus kepada agama (Islam sesuai) fitrah (dari) Allah yang telah menciptakan manusia menurut (fitrah) itu. Tidak ada perubahan pada ciptaan Allah (tersebut). Itulah agama yang lurus, tetapi kebanyakan manusia tidak mengetahui.
[QS. Ar-Rūm ayat 30]
Fitrah keimanan terhadap keberadaan sang Pencipta akan tetap pada asalnya jika ia tidak dirusak oleh lingkungannya, terutama kedua orang tuanya. Jika lingkungan merusaknya maka rusaklah fitrah tersebut. Rasulullah ṣallallāhu ‘alaihi wa sallam bersabda :
كُلُّ مَوْلُودٍ يُولَدُ عَلَى الْفِطْرَةِ، فَأَبَوَاهُ يُهَوِّدَانِهِ، أَوْ يُنَصِّرَانِهِ، أَوْ يُمَجِّسَانِهِ، كَمَثَلِ الْبَهِيمَةِ تُنْتَجُ الْبَهِيمَةَ، هَلْ تَرَى فِيهَا جَدْعَاءَ
Setiap anak dilahirkan dalam keadaan fitrah. Kemudian kedua orang tuanyalah yang menjadikannya Yahudi, Nasrani, atau Majusi sebagaimana binatang ternak yang melahirkan binatang ternak dengan sempurna. Apakah kalian melihat ada cacat padanya?
[HR. Bukhari no. 1385]
Fitrah keimanan akan keberadaan sang Pencipta dalam jiwa setiap manusia tidak bisa dipungkiri oleh siapa pun. Jika fitrah tersebut dirusak baik dengan syahwat ataupun syubhat maka ia akan muncul kembali ketika menghadapi situasi genting. Allah subḥānahū wa ta‘ālā berfirman :
فَإِذَا رَكِبُواْ فِي ٱلۡفُلۡكِ دَعَوُاْ ٱللَّهَ مُخۡلِصِينَ لَهُ ٱلدِّينَ فَلَمَّا نَجَّىٰهُمۡ إِلَى ٱلۡبَرِّ إِذَا هُمۡ يُشۡرِكُونَ ٦٥
Apabila naik ke dalam bahtera, mereka berdoa kepada Allah dengan penuh rasa pengabdian (ikhlas) kepada-Nya. Akan tetapi, ketika Dia (Allah) menyelamatkan mereka sampai ke darat, tiba-tiba mereka (kembali) mempersekutukan (Allah).
[QS. Al-‘Ankabūt ayat 65]
B. Akal Sehat
Selain fitrah yang lurus, landasan seseorang mengimani keberadaan Allah adalah akal sehat. Akal sehat pasti meyakini adanya sang Pencipta dibalik keberadaan alam semesta. Akal sehat tidak akan membenarkan sesuatu itu ada tanpa ada yang mengadakan. Sesuatu yang ada itu harus ada yang mengadakan. Namun, yang mengadakan itu tidak boleh sama dengan sesuatu yang diadakan. Yang mengadakan harus ada tanpa ada yang mengadakan (wājibul-wujūd). Dia adalah Allah subḥānahū wa ta‘ālā yang menciptakan segala sesuatu.
Perhatikan firman Allah subḥānahū wa ta‘ālā berikut ini :
أَمۡ خُلِقُواْ مِنۡ غَيۡرِ شَيۡءٍ أَمۡ هُمُ ٱلۡخَٰلِقُونَ ٣٥
Apakah mereka tercipta tanpa asal-usul ataukah mereka menciptakan (diri mereka sendiri)?
[QS. Aṭ-Ṭūr ayat 35]
Pada ayat ini, Allah mengajak manusia untuk berpikir mengenai penciptaan mereka dari dua sisi. Sisi pertama, Allah mengajak mereka untuk berpikir bahwa mereka itu tidaklah tercipta dengan sendirinya tanpa asal-usul. Segala sesuatu yang ada pada saat ini pasti membutuhkan penyebab yang mengadakannya. Sebagai contoh, keberadaan manusia yang ada pada saat ini adalah karena adanya ibu yang melahirkan mereka dan ayah yang membuahi ibunya. Pun demikian ayah dan ibu mereka dilahirkan oleh ibu mereka sebelumnya dan begitu seterusnya. Ini adalah hukum sebab akibat yang tidak dapat dipungkiri oleh seluruh akal yang sehat. Belum lagi sistem yang begitu indah menakjubkan, serasi, seimbang, dan berkaitan antara sebab dan akibatnya menunjukkan segala sesuatu ini tidak mungkin ada dan terjadi begitu saja dengan sendirinya tanpa campur tangan sang Pencipta dan Pengatur di balik semuanya.
Sisi kedua, Allah mengajak berpikir kepada manusia bahwa mereka tidak mungkin menciptakan diri mereka sendiri. Jika memang mereka meyakini bahwa mereka menciptakan dirinya sendiri melalui proses alam yang cukup panjang, lantas siapa yang menciptakan alam yang meliputi langit dan bumi yang begitu besar dan luas? Apakah langit dan bumi juga menciptakan dirinya sendiri? Tentu tidak mungkin! Tidak mungkin sesuatu itu menjadi pencipta sekaligus ciptaan secara bersamaan. Selain itu, tidak mungkin pula sesuatu mengadakan dirinya sendiri sementara sebelum itu ia adalah sesuatu yang tidak ada. Ini membuktikan bahwa segala sesuatu yang dahulu itu tidak ada lalu menjadi ada karena ada yang mengadakan, yaitu Allah subḥānahū wa ta‘ālā.
C. Peristiwa-peristiwa Nyata yang Disaksikan Manusia
Betapa banyak peristiwa menakjubkan di luar nalar yang telah disaksikan oleh banyak manusia dan kisahnya terus dinukil sampai kepada kita. Kisah tersebut telah mengonfirmasi akan keberadaan Allah subḥānahū wa ta‘ālā yang Maha Kuasa.
Di antara peristiwa di luar nalar yang pernah disaksikan manusia dan kita dengar kisah-kisahnya adalah mukjizat para Nabi dan Rasul. Mukjizat tersebut menunjukkan bahwa tidak mungkin hal itu bisa terjadi tanpa kehendak sang Maha Kuasa. Mungkinkah mukjizat yang mereka alami adalah peristiwa yang terjadi secara kebetulan? Ataukah memang ada sang Maha Kuasa dibalik peristiwa tersebut?
أَلَمۡ يَأۡتِكُمۡ نَبَؤُاْ ٱلَّذِينَ مِن قَبۡلِكُمۡ قَوۡمِ نُوحٖ وَعَادٖ وَثَمُودَ وَٱلَّذِينَ مِنۢ بَعۡدِهِمۡ لَا يَعۡلَمُهُمۡ إِلَّا ٱللَّهُۚ جَآءَتۡهُمۡ رُسُلُهُم بِٱلۡبَيِّنَٰتِ فَرَدُّوٓاْ أَيۡدِيَهُمۡ فِيٓ أَفۡوَٰهِهِمۡ وَقَالُوٓاْ إِنَّا كَفَرۡنَا بِمَآ أُرۡسِلۡتُم بِهِۦ وَإِنَّا لَفِي شَكّٖ مِّمَّا تَدۡعُونَنَآ إِلَيۡهِ مُرِيبٖ ٩ ۞ قَالَتۡ رُسُلُهُمۡ أَفِي ٱللَّهِ شَكّٞ فَاطِرِ ٱلسَّمَٰوَٰتِ وَٱلۡأَرۡضِۖ يَدۡعُوكُمۡ لِيَغۡفِرَ لَكُم مِّن ذُنُوبِكُمۡ وَيُؤَخِّرَكُمۡ إِلَىٰٓ أَجَلٖ مُّسَمّٗىۚ قَالُوٓاْ إِنۡ أَنتُمۡ إِلَّا بَشَرٞ مِّثۡلُنَا تُرِيدُونَ أَن تَصُدُّونَا عَمَّا كَانَ يَعۡبُدُ ءَابَآؤُنَا فَأۡتُونَا بِسُلۡطَٰنٖ مُّبِينٖ ١٠
Apakah belum sampai kepadamu berita orang-orang sebelum kamu (yaitu) kaum Nuh, ‘Ad, Samud, dan orang-orang setelah mereka? Tidak ada yang mengetahui (bilangan) mereka selain Allah. Rasul-rasul telah datang kepada mereka dengan (membawa) bukti-bukti yang nyata, tetapi mereka menutupkan tangannya ke mulutnya (sebagai tanda penolakan dan karena kebencian) dan berkata, “Sesungguhnya kami tidak percaya akan ajaran yang kamu bawa dan kami benar-benar dalam keraguan yang menggelisahkan menyangkut apa yang kamu serukan kepada kami.”
Rasul-rasul mereka berkata, “Apakah ada keraguan terhadap Allah, Pencipta langit dan bumi? Dia menyeru kamu (untuk beriman) agar Dia mengampuni sebagian dosa-dosamu dan menangguhkan (siksaan)-mu sampai waktu yang ditentukan.” Mereka menjawab, “Kamu tidak lain hanyalah manusia seperti kami juga. Kamu ingin menghalangi kami dari (menyembah) apa yang sejak dahulu selalu disembah nenek moyang kami, karena itu datangkanlah kepada kami bukti yang nyata.”
[QS. Ibrāhīm ayat 9-10]
Di antara peristiwa lain yang pernah terjadi dan disaksikan oleh banyak manusia adalah dikabulkannya doa yang dipanjatkan para Nabi dan Rasul. Apakah terkabulnya doa-doa yang mereka panjatkan hanyalah peristiwa yang terjadi secara kebetulan? Ataukah memang ada sang pengabul doa di balik peristiwa tersebut?
۞ وَأَيُّوبَ إِذۡ نَادَىٰ رَبَّهُۥٓ أَنِّي مَسَّنِيَ ٱلضُّرُّ وَأَنتَ أَرۡحَمُ ٱلرَّٰحِمِينَ ٨٣ فَٱسۡتَجَبۡنَا لَهُۥ فَكَشَفۡنَا مَا بِهِۦ مِن ضُرّٖۖ وَءَاتَيۡنَٰهُ أَهۡلَهُۥ وَمِثۡلَهُم مَّعَهُمۡ رَحۡمَةٗ مِّنۡ عِندِنَا وَذِكۡرَىٰ لِلۡعَٰبِدِينَ ٨٤
(Ingatlah) Ayyub ketika dia berdoa kepada Tuhannya, “(Ya Tuhanku,) sesungguhnya aku telah ditimpa penyakit, padahal Engkau Tuhan Yang Maha Penyayang dari semua yang penyayang.”
Maka, Kami mengabulkan (doa)-nya, lalu Kami lenyapkan penyakit yang ada padanya, Kami mengembalikan keluarganya kepadanya, dan (Kami melipatgandakan jumlah mereka) sebagai suatu rahmat dari Kami dan pengingat bagi semua yang menyembah (Kami).
[QS. Al-Anbiyā' ayat 83-84]
Bahkan kita pun pernah mengalami sendiri saat-saat di mana doa yang kita panjatkan dengan penuh keikhlasan terkabul. Pengalaman ini pun juga tidak terjadi sekali dua kali, tetapi berkali-kali. Apakah terkabulnya doa-doa yang kita panjatkan hanyalah peristiwa yang terjadi secara kebetulan? Ataukah memang ada sang Pengabul doa di balik peristiwa tersebut?
إِذۡ تَسۡتَغِيثُونَ رَبَّكُمۡ فَٱسۡتَجَابَ لَكُمۡ أَنِّي مُمِدُّكُم بِأَلۡفٖ مِّنَ ٱلۡمَلَٰٓئِكَةِ مُرۡدِفِينَ ٩
(Ingatlah) ketika kamu memohon pertolongan kepada Tuhanmu, lalu Dia mengabulkan(-nya) bagimu (seraya berfirman), “Sesungguhnya Aku akan mendatangkan bala bantuan kepadamu berupa seribu malaikat yang datang berturut-turut.”
[QS. Al-Anfāl ayat 9]
D. Al-Quran dan Kibab-kitab Sebelumnya
Al-Quran dan kitab-kitab sebelumnya telah menunjukkan akan keberadaan Allah subḥānahū wa ta‘ālā. Buktinya, semua kitab tersebut tidak luput dari membicarakan Allah Tuhan semesta alam.
Selain pembicaran mengenai Allah, kesempurnaan Al-Quran juga membuktikan bahwa kitab tersebut benar-benar berasal dari Tuhan semesta alam. Seandainya Al-Quran bukan dari Allah maka pastilah akan terjadi banyak pertentangan di dalamnya.
أَفَلَا يَتَدَبَّرُونَ ٱلۡقُرۡءَانَۚ وَلَوۡ كَانَ مِنۡ عِندِ غَيۡرِ ٱللَّهِ لَوَجَدُواْ فِيهِ ٱخۡتِلَٰفٗا كَثِيرٗا ٨٢
Tidakkah mereka menadaburi Al-Qur’an? Seandainya (Al-Qur’an) itu tidak datang dari sisi Allah, tentulah mereka menemukan banyak pertentangan di dalamnya.
[QS. An-Nisā' ayat 82]
Apa pun yang ada di dalam Al-Quran menunjukkan keberadaan Allah. Tidak mungkin kitab yang begitu sempurna berasal dari selain Allah. Allah subḥānahū wa ta‘ālā juga menantang siapa pun yang meragukan kebenaran Al-Quran untuk membuat satu surat yang semisal dan setara dengan Al-Quran dari segala aspek. Bahkan Allah mempersilahkan untuk bekerja sama satu sama lain untuk membuatnya.
وَإِن كُنتُمۡ فِي رَيۡبٖ مِّمَّا نَزَّلۡنَا عَلَىٰ عَبۡدِنَا فَأۡتُواْ بِسُورَةٖ مِّن مِّثۡلِهِۦ وَٱدۡعُواْ شُهَدَآءَكُم مِّن دُونِ ٱللَّهِ إِن كُنتُمۡ صَٰدِقِينَ ٢٣
Jika kamu (tetap) dalam keraguan tentang apa (Al-Qur’an) yang Kami turunkan kepada hamba Kami (Nabi Muhammad), buatlah satu surah yang semisal dengannya dan ajaklah penolong-penolongmu selain Allah, jika kamu orang-orang yang benar.
[QS. Al-Baqarah ayat 23]
Sampai saat ini, tidak ada seorang pun yang sanggup menjawab tantangan tersebut. Ini membuktikan bahwa Al-Quran itu benar dari Tuhan semesta alam. Andaikan Al-Quran bukan dari Allah maka pasti ada yang sanggup menjawab tantangan tersebut.
Referensi Bacaan
- Al-‘Aqīdah Al-Muyassarah oleh Prof. Dr. Aḥmad bin Abdurraḥmān Al-Qaḍiy
- Nubżatun fil-‘Aqīdatil-Islāmiyyah oleh Syekh Muḥammad bin Salih Al-Uṡaimin