Pengertian Tauhid Rububiyyah dan Bukti Ketuhanan Allah Baik Naqli Maupun Aqli

Alam Semesta Bukti Ketuhanan Allah

A. Apa Itu Tauhid Rubūbiyyah?

Secara bahasa, rubūbiyyah adalah bentuk masdar dari kata kerja رَبَبَ. Dari kata tersebutlah kata Ar-Rabb (الرَّبُّ) berasal. Rubūbiyyah adalah sifat Allah yang diambil dari nama-Nya, Ar-Rabb. Kata Ar-Rabb dalam bahasa Arab digunakan untuk beberapa makna, di antaranya adalah:

  • Pemilik
  • Pimpinan/tuan yang ditaati
  • Memperbaik/Pengatur/Pendamai

Secara istilah, tauhid rubūbiyyah adalah mengesakan Allah dalam segala perbuatan-Nya. Di antara perbuatan-Nya adalah: menciptakan, memberi rezeki, memimpin, memberi nikmat, memiliki, membentuk rupa, memberi dan menahan, memberikan manfaat dan mudarat, menghidupkan dan mematikan, mengatur, menetapkan dan menakdirkan, serta perbuatan lainnya yang tidak ada sekutu bagi-Nya dalam perbuatan-Nya.

Oleh karena itu, wajib bagi setiap hamba untuk mengimani itu semua.

B. Dalil-dalil Bukti Rubūbiyyah Allah

1. Dalil dari Al-Quran

خَلَقَ ٱلسَّمَٰوَٰتِ بِغَيۡرِ عَمَدٖ تَرَوۡنَهَاۖ وَأَلۡقَىٰ فِي ٱلۡأَرۡضِ رَوَٰسِيَ أَن تَمِيدَ بِكُمۡ وَبَثَّ فِيهَا مِن كُلِّ دَآبَّةٖۚ وَأَنزَلۡنَا مِنَ ٱلسَّمَآءِ مَآءٗ فَأَنۢبَتۡنَا فِيهَا مِن كُلِّ زَوۡجٖ كَرِيمٍ ١٠ هَٰذَا خَلۡقُ ٱللَّهِ فَأَرُونِي مَاذَا خَلَقَ ٱلَّذِينَ مِن دُونِهِۦۚ بَلِ ٱلظَّٰلِمُونَ فِي ضَلَٰلٖ مُّبِينٖ ١١

10. Dia menciptakan langit tanpa tiang (seperti) yang kamu lihat dan meletakkan di bumi gunung-gunung (yang kukuh) agar ia tidak mengguncangkanmu serta menyebarkan padanya (bumi) segala jenis makhluk bergerak. Kami (juga) menurunkan air hujan dari langit, lalu Kami menumbuhkan padanya segala pasangan yang baik.

11. Inilah ciptaan Allah. Maka, perlihatkanlah kepadaku apa yang telah diciptakan oleh (sembahanmu) selain-Nya. Sebenarnya orang-orang zalim itu berada di dalam kesesatan yang nyata.

[QS. Luqmān (31): 10-11]

أَمۡ خُلِقُواْ مِنۡ غَيۡرِ شَيۡءٍ أَمۡ هُمُ ٱلۡخَٰلِقُونَ ٣٥

Apakah mereka tercipta tanpa asal-usul ataukah mereka menciptakan (diri mereka sendiri)?

[QS. Aṭ-Ṭūr (52): 35]

2. Dalil dari As-Sunnah

Di antara dalil dari As-Sunnah adalah hadis riwayat Ahmad dan Abu Dāwūd dari Abdullāh bin Asy-Syikhkhīr raḍiyallāhu ‘anhu yang marfū’ dari Nabi ṣallallāhu ‘alaihi wasallam di dalamnya terdapat redaksi “السَّيِّدُ ‌اللَّهُ تبارك وتعالى” (Pemimpin yang sesungguhnya adalah Allah tabāraka wa ta’āla).

Dalam hadis lain yang sahih riwayat Tirmiżi dan lainnya disebutkan bahwa sesungguhnya Nabi ṣallallāhu ‘alaihi wasallam ketika berwasiat kepada Ibnu ‘Abbās, beliau bersabda:

وَاعْلَمْ أَنَّ الأُمَّةَ ‌لَوْ ‌اجْتَمَعَتْ عَلَى أَنْ يَنْفَعُوكَ بِشَيْءٍ لَمْ يَنْفَعُوكَ إِلَّا بِشَيْءٍ قَدْ كَتَبَهُ اللَّهُ لَكَ، وَلَوْ اجْتَمَعُوا عَلَى أَنْ يَضُرُّوكَ بِشَيْءٍ لَمْ يَضُرُّوكَ إِلَّا بِشَيْءٍ قَدْ كَتَبَهُ اللَّهُ عَلَيْكَ، رُفِعَتِ الأَقْلَامُ وَجَفَّتْ الصُّحُفُ

Ketahuilah, sesungguhnya jika umat ini berkumpul untuk memberimu suatu manfaat, mereka tidak akan bisa memberimu manfaat kecuali dengan sesuatu yang telah Allah tetapkan bagimu. Dan jika mereka berkumpul untuk mencelakaimu dengan sesuatu, mereka tidak akan bisa mencelakaimu kecuali dengan sesuatu yang telah Allah tetapkan atasmu. Pena telah diangkat dan lembaran telah kering.

3. Dalil Akal

Akal yang sehat telah membuktikan bahwa Allah subḥānahu wata’āla itu ada, Rubūbiyah-Nya Maha Esa, sempurna kekuasaan-Nya atas seluruh makhluk-Nya, dan sempurna pengendalian-Nya atas seluruh makhluk-Nya.

Pembuktian tersebut didapatkan dengan cara memerhatikan dan memikirkan tanda-tanda kekuasaan Allah yang menunjukkan keberadaan-Nya. Ada banyak cara dalam memerhatikan tanda-tanda kekuasaan Allah untuk membuktikan keesaan rubūbiyyah-Nya. Namun, ada dua cara yang paling terkenal, yaitu:

Metode Pertama:

Memerhatikan ayat-ayat Allah pada penciptaan diri manusia yang dikenal dengan istilah “Dalālatul Anfus” (دَلَالَةِ الْأَنْفُسِ). Diri manusia adalah salah satu tanda dari sekian tanda-tanda keagungan Allah yang menunjukkan keesaan Allah dalam rubūbiyyah-Nya tanpa ada sekutu bagi-Nya, sebagaimana firman Allah subḥānahu wata’āla:

وَفِيٓ أَنفُسِكُمۡۚ أَفَلَا تُبۡصِرُونَ ٢١

(Begitu juga ada tanda-tanda kebesaran-Nya) pada dirimu sendiri. Maka, apakah kamu tidak memperhatikan?

[QS. Aż-Żāriyāt (51): 21]

وَنَفۡسٖ وَمَا سَوَّىٰهَا ٧

dan demi jiwa serta penyempurnaan (ciptaan)-nya,

[QS. Asy-Syams (91): 7]

Oleh karena itu, seandainya manusia memerhatikan dengan seksama apa yang ada pada dirinya yang mengandung keajaiban-keajaiban ciptaan Allah, maka hal tersebut akan membimbingnya pada keyakinan bahwa ia mempunyai Tuhan Yang Maha Pencipta, Maha Bijaksana dan Maha Mengetahui.

Sebab, mampukah manusia menciptakan setetes nuṭfah (air mani) yang merupakan asal ciptaannya!? Atau mengubahnya menjadi segumpal darah, lalu menjadi segumpal daging, lalu menjadi tulang, lalu membungkus tulang itu dengan daging!?

Metode Kedua:

Memerhatikan ayat-ayat Allah pada penciptaan alam semesta yang dikenal dengan istilah “Dalālatul-Āfāq” (دَلَالَةُ الْآفَاقِ). Alam semesta ini juga merupakan salah satu tanda dari sekian tanda-tanda keagungan Allah yang menunjukkan keesaan Allah dalam rūbubiyyah-Nya. Allah subḥānahu wata’āla berfirman:

سَنُرِيهِمۡ ءَايَٰتِنَا فِي ٱلۡأٓفَاقِ وَفِيٓ أَنفُسِهِمۡ حَتَّىٰ يَتَبَيَّنَ لَهُمۡ أَنَّهُ ٱلۡحَقُّۗ أَوَلَمۡ يَكۡفِ بِرَبِّكَ أَنَّهُۥ عَلَىٰ كُلِّ شَيۡءٖ شَهِيدٌ ٥٣

Kami akan memperlihatkan kepada mereka tanda-tanda (kebesaran) Kami di segenap penjuru dan pada diri mereka sendiri sehingga jelaslah bagi mereka bahwa (Al-Qur’an) itu adalah benar. Tidak cukupkah (bagi kamu) bahwa sesungguhnya Tuhanmu menjadi saksi atas segala sesuatu?

[QS. Fuṣṣilat (41): 53]

Barang siapa yang mengamati dan merenungkan alam semesta dan segala sesuatu yang ada di alam ini – seperti langit dan bumi, segala sesuatu yang ada di langit seperti bintang-bintang, planet-planet, matahari, dan bulan, segala sesuatu yang ada di bumi seperti gunung-gunung, pepohonan, lautan, sungai-sungai, fenomena yang berada di sekelilingnya seperti siang dan malam, serta proses pergerakan alam semesta dengan sistem yang sangat presisi, – maka ia akan menemukan bahwa di sana ada sang Pencipta alam semesta yang menciptakan dan mengatur segala urusannya.

Seorang yang berakal, semakin jauh ia merenungkan makhluk-makhluk tersebut, pasti ia akan mengetahui bahwa itu semua diciptakan dengan tujuan kebenaran dan dengan cara yang benar.

Di sisi lain, seluruh makhluk tersebut merupakan kumpulan lembaran ayat-ayat-Nya serta bukti-bukti atas segala yang diberitakan oleh Allah tentang diri-Nya, sekaligus sebagai bukti atas keesaan-Nya.

Disebutkan dalam sebuah kisah bahwa ada sekelompok orang yang ingin berdebat dengan Imam Abu Ḥanīfah tentang kebenaran keesaan rubūbiyyah Allah. Lalu, Imam Abu Ḥanīfah berkata kepada mereka: “Sebelum kita berdebat, coba beritahu aku pendapatmu jika ada sebuah perahu di sungai Tigris yang berlayar bermuatan makanan dan lain sebagainya dengan sendirinya, lalu ia kembali dengan sendirinya, berlabuh dengan sendirinya dan berputar balik, dan semua itu terjadi tanpa ada pengemudinya.”

Mereka menjawab: “Mustahil! Itu tidak akan pernah mungkin terjadi selamanya!”

Maka sang Imam berkata kepada mereka: “Apabila hal itu mustahil terjadi pada sebuah perahu, maka bagaimana halnya dengan alam semesta ini?”

Dengan demikian, beliau telah mengingatkan bahwa keteraturan alam semesta, ketelitian pembuatannya, dan kesempurnaan penciptaannya merupakan bukti akan keesaan dan ketunggalan Penciptanya.