Pentingnya Mempelajari Keimanan dan Mengamalkannya dalam Kehidupan Sehari-hari

Mempelajari Keimanan dan Mengamalkannya

Ilmu akidah (iman) adalah salah satu ilmu yang setiap muslim wajib mempelajari dan mengamalkannya. Pada kesempatan kali ini, kita akan mempelajari ilmu akidah dari kitab “Uṣūlul- Īmān fi Ḍauil-Kitābi was-Sunnah” (Pondasi-pondasi Keimanan di Bawah Cahaya Al-Quran dan As-Sunnah) yang ditulis oleh tim yang terdiri dari sejumlah ulama. Kitab ini merupakan kitab yang disusun atas arahan Pelayan Dua Kota Suci (Mekah dan Madinah), Raja Abdullāh bin Abdul Azīz Ali Sa’ud kepada Kementerian Agama Islam, Wakaf, Dakwah, dan Bimbingan Islam kerajaan Arab Saudi yang diwakili oleh Kompleks Raja Fahd untuk Percetakan Mushaf Al-Quran di Madinah.

Kitab ini ditulis, dicetak, dan disebarluaskan dalam rangka menyebarkan hal-hal yang bermanfaat bagi umat Islam dalam urusan agama, memberikan pencerahan kepada umat Islam tentang keimanan, serta bagian dari dakwah kepada Allah di atas ilmu.

A. Pentingnya Mempelajari Keimanan dan Mengamalkannya

Setiap muslim pasti menyadari akan pentingnya dan agungnya nilai keimanan, serta banyaknya manfaat dan faedahnya di dunia dan akhirat. Bahkan, setiap kebaikan di dunia dan akhirat tergantung dari bagaimana keimanan itu diamalkan dengan benar. Maka dari itu, dapat dikatakan bahwa keimanan adalah tuntutan yang paling agung, tujuan yang paling penting, dan cita-cita yang paling mulia.

Dengan keimanan, seorang hamba dapat menjalani kehidupan yang baik dan penuh dengan kebahagiaan. Dengan keimanan pula ia akan terhindar dari hal yang tidak ia sukai dan berbagai macam keburukan serta kesulitan. Di akhirat, ia akan memperoleh pahala dan kenikmatan yang abadi serta kebaikan yang terus-menerus yang tidak akan pernah berpindah ataupun menghilang.

Allah subḥānahu wata’āla berfirman :

مَنۡ عَمِلَ صَٰلِحٗا مِّن ذَكَرٍ أَوۡ أُنثَىٰ وَهُوَ مُؤۡمِنٞ فَلَنُحۡيِيَنَّهُۥ حَيَوٰةٗ طَيِّبَةٗۖ وَلَنَجۡزِيَنَّهُمۡ أَجۡرَهُم بِأَحۡسَنِ مَا كَانُواْ يَعۡمَلُونَ ٩٧

Siapa yang mengerjakan kebajikan, baik laki-laki maupun perempuan, sedangkan dia seorang mukmin, sungguh, Kami pasti akan berikan kepadanya kehidupan yang baik dan akan Kami beri balasan dengan pahala yang lebih baik daripada apa yang selalu mereka kerjakan.


[QS. An-Naḥl (16): 97]

وَمَنۡ أَرَادَ ٱلۡأٓخِرَةَ وَسَعَىٰ لَهَا سَعۡيَهَا وَهُوَ مُؤۡمِنٞ فَأُوْلَٰٓئِكَ كَانَ سَعۡيُهُم مَّشۡكُورٗا ١٩

Siapa yang menghendaki kehidupan akhirat dan berusaha ke arah itu dengan sungguh-sungguh, dan dia adalah mukmin, mereka itulah orang yang usahanya dibalas dengan baik.


[QS. Al-Isrā' (17): 19]

وَمَن يَأۡتِهِۦ مُؤۡمِنٗا قَدۡ عَمِلَ ٱلصَّٰلِحَٰتِ فَأُوْلَٰٓئِكَ لَهُمُ ٱلدَّرَجَٰتُ ٱلۡعُلَىٰ ٧٥

Siapa yang datang kepada-Nya dalam keadaan beriman dan telah beramal saleh, mereka itulah orang-orang yang memperoleh derajat yang tinggi (mulia),


[QS. Ṭāhā (20): 75]

إِنَّ ٱلَّذِينَ ءَامَنُواْ وَعَمِلُواْ ٱلصَّٰلِحَٰتِ كَانَتۡ لَهُمۡ جَنَّٰتُ ٱلۡفِرۡدَوۡسِ نُزُلًا ١٠٧ خَٰلِدِينَ فِيهَا لَا يَبۡغُونَ عَنۡهَا حِوَلٗا ١٠٨

Sesungguhnya orang-orang yang beriman dan beramal saleh memperoleh surga Firdaus sebagai tempat tinggal. Mereka kekal di dalamnya, mereka tidak ingin pindah dari sana.


[QS. Al-Kahfi (18): 107-108]

B. Pondasi-pondasi (Rukun) Keimanan dan Dalil-dalilnya

Berdasarkan dalil-dalil yang ditunjukkan di dalam Al-Quran maupun As-Sunnah, terdapat enam fondasi (rukun) keimanan yang wajib diimani:

  • Iman kepada Allah
  • Iman kepada Malaikat
  • Iman kepada kitab-kitab
  • Iman kepada para Rasul
  • Iman kepada hari akhir
  • Iman kepada takdir baik dan buruk

Berikut beberapa dalil dalam Al-Quran dan As-Sunnah yang menyebutkan keenam rukun iman tersebut:

يَٰٓأَيُّهَا ٱلَّذِينَ ءَامَنُوٓاْ ءَامِنُواْ بِٱللَّهِ وَرَسُولِهِۦ وَٱلۡكِتَٰبِ ٱلَّذِي نَزَّلَ عَلَىٰ رَسُولِهِۦ وَٱلۡكِتَٰبِ ٱلَّذِيٓ أَنزَلَ مِن قَبۡلُۚ وَمَن يَكۡفُرۡ بِٱللَّهِ وَمَلَٰٓئِكَتِهِۦ وَكُتُبِهِۦ وَرُسُلِهِۦ وَٱلۡيَوۡمِ ٱلۡأٓخِرِ فَقَدۡ ضَلَّ ضَلَٰلَۢا بَعِيدًا ١٣٦

Wahai orang-orang yang beriman, tetaplah beriman kepada Allah, Rasul-Nya (Nabi Muhammad), Kitab (Al-Qur’an) yang diturunkan kepada Rasul-Nya, dan kitab yang Dia turunkan sebelumnya. Siapa yang kufur kepada Allah, para malaikat-Nya, kitab-kitab-Nya, para rasul-Nya, dan hari Akhir sungguh dia telah tersesat sangat jauh.


[QS. An-Nisā' (4): 136]

۞ لَّيۡسَ ٱلۡبِرَّ أَن تُوَلُّواْ وُجُوهَكُمۡ قِبَلَ ٱلۡمَشۡرِقِ وَٱلۡمَغۡرِبِ وَلَٰكِنَّ ٱلۡبِرَّ مَنۡ ءَامَنَ بِٱللَّهِ وَٱلۡيَوۡمِ ٱلۡأٓخِرِ وَٱلۡمَلَٰٓئِكَةِ وَٱلۡكِتَٰبِ وَٱلنَّبِيِّـۧنَ

Kebajikan itu bukanlah menghadapkan wajahmu ke arah timur dan barat, melainkan kebajikan itu ialah (kebajikan) orang yang beriman kepada Allah, hari Akhir, malaikat-malaikat, kitab suci, dan nabi-nabi;


[QS. Al-Baqarah (2): 177]

ءَامَنَ ٱلرَّسُولُ بِمَآ أُنزِلَ إِلَيۡهِ مِن رَّبِّهِۦ وَٱلۡمُؤۡمِنُونَۚ كُلٌّ ءَامَنَ بِٱللَّهِ وَمَلَٰٓئِكَتِهِۦ وَكُتُبِهِۦ وَرُسُلِهِۦ لَا نُفَرِّقُ بَيۡنَ أَحَدٖ مِّن رُّسُلِهِۦۚ وَقَالُواْ سَمِعۡنَا وَأَطَعۡنَاۖ غُفۡرَانَكَ رَبَّنَا وَإِلَيۡكَ ٱلۡمَصِيرُ ٢٨٥

Rasul (Muhammad) beriman pada apa (Al-Qur’an) yang diturunkan kepadanya dari Tuhannya, demikian pula orang-orang mukmin. Masing-masing beriman kepada Allah, malaikat-malaikat-Nya, kitab kitab-Nya, dan rasul-rasul-Nya. (Mereka berkata,) “Kami tidak membeda-bedakan seorang pun dari rasul-rasul-Nya.” Mereka juga berkata, “Kami dengar dan kami taat. Ampunilah kami, wahai Tuhan kami. Hanya kepada-Mu tempat (kami) kembali.


[QS. Al-Baqarah (2): 285]

إِنَّا كُلَّ شَيۡءٍ خَلَقۡنَٰهُ بِقَدَرٖ ٤٩

Sesungguhnya Kami menciptakan segala sesuatu sesuai dengan ukuran.


[QS. Al-Qamar (54): 49]

أَنَّ جِبْرِيلَ سَأَلَ النَّبِيَّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فَقَالَ: أَخْبِرْنِي عَنِ الْإِيمَانِ، قَالَ: ‌أَنْ ‌تُؤْمِنَ ‌بِاللهِ، وَمَلَائِكَتِهِ، وَكُتُبِهِ، وَرُسُلِهِ، وَالْيَوْمِ الْآخِرِ، وَتُؤْمِنَ بِالْقَدَرِ، خَيْرِهِ وَشَرِّهِ

Bahwasanya Jibril pernah bertanya kepada Nabi ṣallallāhu ‘alaihi wasallam: “Beri tahu aku tentang iman!” Beliau menjawab: “(iman adalah) engkau beriman kepada Allah, para Malaikat, kitab-kitab-Nya, para Rasul-Nya, hari akhir, takdir baik dan buruk.”


[HR. Muslim]

Inilah keenam rukun iman yang agung yang menjadi landasan keimanan. Seseorang tidak dikatakan beriman kecuali dengan mengimani keenam hal tersebut. Setiap rukun iman yang ada pada rukun iman tersebut saling berkaitan dan tidak dapat dipisahkan satu sama lain. Jika seseorang mengimani sebagiannya maka ia harus mengimani yang lainnya. Sebaliknya, jika seseorang mengingkari sebagiannya berarti ia mengingkari keseluruhannya.

Oleh karena itu, sangat ditekankan bagi setiap muslim untuk memberikan perhatian dan kepedulian yang besar terhadap keenam rukun iman tersebut, baik dengan mengetahuinya, mempelajarinya, maupun mengamalkannya.