Kesemangatan Umat Islam dalam Membaca dan Menghafal Al-Quran
Alhamdulillah, saat ini kita telah menyaksikan besarnya semangat umat Islam dalam mempelajari dan menghafalkan Al-Quran. Hal ini dibuktikan dari banyaknya pesantren Al-Quran yang didirikan serta banyak diminati. Selain itu, para pengelola masjid juga banyak yang mengadakan program belajar dan menghafal Al-Quran bagi para jamaahnya. Bahkan, beberapa sekolah juga ikut berlomba-lomba mengadakan program serupa bagi para siswanya.
Semangat ini tentu sangat baik dan patut dipertahankan, mengingat ayat pertama diturunkannya Al-Quran adalah perintah untuk “membaca”. Allah subḥānahu wata’āla berfirman:
ٱقۡرَأۡ بِٱسۡمِ رَبِّكَ ٱلَّذِي خَلَقَ ١
Bacalah dengan (menyebut) nama Tuhanmu yang menciptakan!
[QS. Al-‘Alaq (96): 1]
Fenomena Membaca dan Menghafal Tanpa Pemahaman
Ironisnya, seringkali kesemangatan seperti ini berjalan tanpa arahan ilmu. Akibatnya, kesemangatan tersebut berjalan menuju arah yang tidak seharusnya. Munculnya anggapan bahwa Al-Quran diturunkan hanya untuk dibaca adalah bukti dari hal ini.
Meskipun demikian, anggapan ini masih jauh lebih baik karena membaca Al-Quran tanpa memahaminya adalah bagian dari ritual ibadah yang sah dalam syariat.
Yang lebih buruk adalah munculnya anggapan bahwa Al-Quran layaknya senandung dan nyanyian yang dinyanyikan di panggung-panggung dan mihrab-mihrab masjid. Buktinya, banyak para qāri' dan imam yang dipuji hanya karena keindahan suaranya.
Perlahan demi perlahan, kekaguman terhadap Al-Quran bergeser pada kekaguman terhadap suara sang qāri'. Bagaimana tidak? Kemampuan sang qāri' dalam “bernyanyi” mampu membuat gendang telinga para pendengar berjoget sehingga bukan karena pesan Allah mereka terhipnotis, melainkan karena pita suara sang qāri'.
Fenomena ini adalah salah satu bukti kebenaran nubuwah Nabi Muhammad ṣallallāhu ‘alaihi wasallam. Beliau telah memperingatkan jauh-jauh hari bahwa mendekati hari akhir akan ada sekelompok manusia yang menjadikan para “penyanyi” tersebut sebagai pemimpin salat meski sedikit pemahaman agamanya. Beliau ṣallallāhu ‘alaihi wasallam pernah bersabda:
بَادِرُوا بِالْمَوْتِ سِتًّا: إِمْرَةَ السُّفَهَاءِ، وَكَثْرَةَ الشُّرَطِ، وَبَيْعَ الْحُكْمِ، وَاسْتِخْفَافًا بِالدَّمِ، وَقَطِيعَةَ الرَّحِمِ، وَنَشْوًا يَتَّخِذُونَ الْقُرْآنَ مَزَامِيرَ يُقَدِّمُونَهُ يُغَنِّيهِمْ، وَإِنْ كَانَ أَقَلَّ مِنْهُمْ فِقْهًا
Bersegeralah (meminta) mati (kepada Allah) sebelum datangnya enam perkara: Kepemimpinan orang-orang bodoh, banyaknya aparat keamanan (pendukung kezaliman), jual beli hukum, meremehkan pertumpahan darah, pemutusan tali silaturahmi, dan adanya generasi muda yang menjadikan Al-Quran sebagai seruling (nyanyian). Mereka memajukan pemuda tersebut (sebagai imam) untuk menyanyi bagi mereka, meskipun pemuda itu adalah orang yang paling sedikit pemahaman agamanya di antara mereka.
[HR. Ahmad no. 16040]
Al-Quran Bukanlah... Tetapi...
Maka, ketahuilah bahwa...
Al-Quran bukanlah “senandung” yang dibacakan dan didengarkan tanpa makna...
Al-Quran juga bukan “kicauan burung beo” yang dilafalkan dengan mata terpejam tanpa menyentuh hati dan akal pikiran...
Al-Quran juga bukan “nyanyian” yang dinyanyikan di panggung-panggung maupun mihrab-mihrab masjid...
Akan tetapi, Al-Quran adalah petunjuk dari Tuhan semesta alam yang Maha Pengasih lagi Maha Penyayang bagi seluruh manusia...
Dengan kita mengikuti petunjuk-Nya, maka terjaminlah keselamatan dan kebahagiaan kita di dunia maupun akhirat. Sebaliknya, berpaling dari petunjuk-Nya maka sama saja dengan menjerumuskan diri kita sendiri ke dalam kehidupan dunia yang sempit dan kebinasaan di hari kiamat. Allah subḥānahu wata’āla berfirman:
وَمَنۡ أَعۡرَضَ عَن ذِكۡرِي فَإِنَّ لَهُۥ مَعِيشَةٗ ضَنكٗا وَنَحۡشُرُهُۥ يَوۡمَ ٱلۡقِيَٰمَةِ أَعۡمَىٰ ١٢٤
Siapa yang berpaling dari peringatan-Ku (Al-Quran), maka sesungguhnya baginya kehidupan yang sempit. Kami akan mengumpulkannya pada hari Kiamat dalam keadaan buta.”
[QS. Ṭāhā (20): 124]
Empat Tujuan Diturunkannya Al-Quran
Lantas, jika bukan hanya untuk dibaca, untuk apa Allah menurunkan kitab-Nya kepada kita?:
Pertama, adalah agar kita menghayati ayat-ayatnya dan mengambil pelajaran-pelajaran yang ada di dalamnya. Allah subḥānahu wata’āla berfirman:
كِتَٰبٌ أَنزَلۡنَٰهُ إِلَيۡكَ مُبَٰرَكٞ لِّيَدَّبَّرُوٓاْ ءَايَٰتِهِۦ وَلِيَتَذَكَّرَ أُوْلُواْ ٱلۡأَلۡبَٰبِ ٢٩
(Al-Qur’an ini adalah) kitab yang Kami turunkan kepadamu (Nabi Muhammad) yang penuh berkah supaya mereka menghayati ayat-ayatnya dan orang-orang yang berakal sehat mendapat pelajaran.
[QS. Ṣād (38): 29]
Sesungguhnya seluruh ayat-ayat dalam Al-Quran itu adalah pelajaran bagi mereka yang berakal sehat. Namun, banyak dari kita yang mengabaikan hal ini. Betapa banyak ayat-ayat yang kita baca namun hanya sampai kerongkongan saja dan tidak sampai ke dalam hati. Kita sering kali lupa bahwa tadabbur adalah kunci agar kita mendapatkan pelajaran tersebut.
Kedua, adalah agar kita menjadikan ayat-ayatnya sebagai petunjuk dan pedoman sehingga mampu membedakan yang hak dan batil. Allah subḥānahu wata’āla berfirman:
شَهۡرُ رَمَضَانَ ٱلَّذِيٓ أُنزِلَ فِيهِ ٱلۡقُرۡءَانُ هُدٗى لِّلنَّاسِ وَبَيِّنَٰتٖ مِّنَ ٱلۡهُدَىٰ وَٱلۡفُرۡقَانِۚ
Bulan Ramadan adalah (bulan) yang di dalamnya diturunkan Al-Qur’an sebagai petunjuk bagi manusia dan penjelasan-penjelasan mengenai petunjuk itu serta pembeda (antara yang hak dan yang batil).
[QS. Al-Baqarah (2): 185]
Seharusnya Al-Quran adalah pedoman utama kita dalam hidup. Sayangnya, banyak di antara kita yang belum menjadikan Al-Quran sebagai pedoman utama. Buktinya, masih banyak yang belum bisa membedakan mana hak mana batil, mana tauhid mana syirik, mana sunah mana bidah, mana halal mana haram, dan lain sebagainya. Akibatnya, banyak perintah Allah yang tidak kita kerjakan dan larangan Allah kita terjang tanpa kita sadari.
Ketiga, adalah agar kita menjadikan ayat-ayatnya sebagai peringatan dan pelajaran bagi diri kita. Allah subḥānahu wata’āla berfirman:
كِتَٰبٌ أُنزِلَ إِلَيۡكَ فَلَا يَكُن فِي صَدۡرِكَ حَرَجٞ مِّنۡهُ لِتُنذِرَ بِهِۦ وَذِكۡرَىٰ لِلۡمُؤۡمِنِينَ ٢
(Inilah) Kitab yang diturunkan kepadamu (Nabi Muhammad), maka janganlah engkau sesak dada karenanya supaya dengan (kitab itu) engkau memberi peringatan, dan menjadi pelajaran bagi orang-orang yang beriman.
[QS. Al-A’rāf (7): 2]
Al-Quran adalah hujjah terkuat yang tak terbantahkan karena ia adalah firman Tuhan semesta alam. Al-Quran berisi peringatan-peringatan bagi orang-orang kafir serta argumen-argumen yang membantah kebatilan akidah mereka. Al-Quran juga berisi peringatan-peringatan bagi orang-orang beriman untuk mengingatkan mereka yang lalai agar kembali ke jalan yang lurus.
Keempat, adalah agar kita menjadikan ayat-ayatnya sebagai obat penawar yang memberi ketenangan batin kita. Allah subḥānahu wata’āla berfirman:
وَنُنَزِّلُ مِنَ ٱلۡقُرۡءَانِ مَا هُوَ شِفَآءٞ وَرَحۡمَةٞ لِّلۡمُؤۡمِنِينَ وَلَا يَزِيدُ ٱلظَّٰلِمِينَ إِلَّا خَسَارٗا ٨٢
Kami turunkan dari Al-Qur’an sesuatu yang menjadi penawar dan rahmat bagi orang-orang mukmin, sedangkan bagi orang-orang zalim (Al-Qur’an itu) hanya akan menambah kerugian.
[QS. Al-Isrā’ (17): 82]
Jika kita membaca Al-Quran dengan penuh penghayatan terhadap kandungan maknanya maka ia akan mengobati seluruh penyakit yang ada di dalam hati kita. Ayat-ayat tentang keesaan Allah akan mengobati penyakit kesyirikan, ayat-ayat tentang akhirat akan mengobati penyakit cinta dunia, ayat-ayat tentang janji pertolongan dan kemenangan akan mengobati penyakit putus asa, gundah, gelisah, sedih, dan kekhawatiran, ayat-ayat tentang kebesaran dan kekuasaan Allah akan mengobati penyakit kesombongan, dan lain sebagainya.
Maka, Kita Harus Bagaimana?
Maka dari itu, mari kita lengkapi semangat membaca dan menghafal Al-Quran dengan semangat mempelajari tafsirnya. Mulailah dengan rutin membaca terjemahan Al-Quran setiap selesai tilawah, mengkaji buku-buku tafsir ringkas, atau menyimak penjelasan para ulama. Mari kita kembalikan fungsi Al-Quran sebagai petunjuk, pelajaran, peringatan, dan juga obat.
Dengan begitu, Al-Quran yang kita baca menjadi jauh lebih bermanfaat bagi kehidupan dunia dan akhirat kita. Akidah kita akan semakin kokoh, akhlak kita semakin mulia, ibadah semakin istikamah, hati lebih tenang, hidup lebih terarah, dan di akhirat kita mendapatkan keselamatan dan kebahagiaan yang abadi tiada henti.