Pengantar Kajian Tafsir: Pentingnya Mempelajari Al-Quran dan Memahami Kandungan Maknanya

Mempelajari Al-Quran dan Memahami Kandungan Maknanya

Alhamdulillah, segala puji bagi Allah Tuhan semesta alam yang Maha Pengasih lagi Maha Penyayang. Semoga selawat serta salam senantiasa tercurah kepada Nabi kita Muhammad sang penutup para Nabi dan Rasul, beserta keluarganya, para sahabatnya, dan para pengikutnya hingga hari kiamat.

Pembaca yang semoga dirahmati oleh Allah...

Pada kesempatan kali ini, kita akan mempelajari kitab tafsir dalam rangka memahami kandungan makna Al-Quran. Dengan memahaminya maka kita bisa mengamalkan pesan-pesan yang Allah sampaikan kepada kita, sehingga tujuan utama kita untuk bisa meraih rida dan surga-Nya serta terhindar dari murka dan azab-Nya dapat dengan mudah tercapai. Namun, sebelum memasuki kajian tafsir, ada tiga hal yang hendak saya sampaikan, yaitu:

  • Mengapa kita harus belajar Al-Quran dan memahami maknanya?
  • Apa kitab tafsir yang akan kita gunakan pada kajian tafsir kali ini?
  • Mengapa saya memilih kitab ini sebagai referensi utama?

A. Mengapa Kita Harus Belajar Al-Quran dan Memahami Maknanya?

Alhamdulillah, saat ini kita telah menyaksikan betapa besarnya semangat umat Islam dalam mempelajari dan menghafalkan Al-Quran. Hal ini terbukti dari banyaknya lembaga dan pesantren Al-Quran yang didirikan hingga berhasil mencetak para penghafal Al-Quran yang hebat. Masjid-masjid pun tidak kalah semangat untuk mengadakan halakah atau program belajar dan menghafal Al-Quran. Fenomena ini bahkan tidak lagi dibatasi oleh dinding-dinding pesantren maupun masjid; sekolah-sekolah formal pun ikut berlomba-lomba menjalankan program yang serupa bagi para siswanya. Semangat ini tentu sangat baik dan patut dipertahankan, mengingat ayat pertama diturunkannya Al-Quran adalah perintah untuk “membaca”.

ٱقۡرَأۡ بِٱسۡمِ رَبِّكَ ٱلَّذِي خَلَقَ ١

Bacalah dengan (menyebut) nama Tuhanmu yang menciptakan!


[QS. Al-‘Alaq (96): 1]

Namun, sangat disayangkan jika muncul anggapan di sebagian umat Islam bahwa Al-Quran hanyalah kitab suci yang dibaca dan dihafalkan sebagai ritual belaka.

Padahal, Al-Quran bukanlah “senandung” yang dibaca tanpa makna...

Al-Quran juga bukan “kicauan burung beo” yang dilafalkan dengan mata terpejam tanpa menyentuh hati dan akal pikiran...

Al-Quran juga bukan “nyanyian” yang dinyanyikan di panggung-panggung maupun mihrab-mihrab masjid...

Akan tetapi, Al-Quran adalah petunjuk dari Tuhan semesta alam yang Maha Pengasih lagi Maha Penyayang bagi seluruh manusia...

Al-Quran adalah petunjuk dari Allah bagi kita semua yang menginginkan rida-Nya dan terhindari dari murka-Nya. Dengan mengikuti petunjuk-Nya, Allah telah menjamin keselamatan dan kebahagiaan kita di dunia dan di akhirat. Sebaliknya, jika kita berpaling dari petunjuk Al-Quran maka sama saja dengan menjerumuskan diri kita sendiri ke dalam kebinasaan dan kehidupan yang sempit. Allah subḥānahu wata’āla berfirman:

وَمَنۡ أَعۡرَضَ عَن ذِكۡرِي فَإِنَّ لَهُۥ مَعِيشَةٗ ضَنكٗا وَنَحۡشُرُهُۥ يَوۡمَ ٱلۡقِيَٰمَةِ أَعۡمَىٰ ١٢٤

Siapa yang berpaling dari peringatan-Ku, maka sesungguhnya baginya kehidupan yang sempit. Kami akan mengumpulkannya pada hari Kiamat dalam keadaan buta.”


[QS. Ṭāhā (20): 124]

Banyak dari kita yang membaca Al-Quran dengan tujuan untuk memperoleh pahala sepuluh kebaikan di setiap hurufnya. Tujuan ini bagus, tetapi kurang sempurna. Mengapa? Sebab, ada empat tujuan yang lebih besar dari pada sekedar mengharap pahala sepuluh kebaikan di setiap hurufnya. Berikut keempat tujuan yang patut kita jadikan sebagai tujuan utama ketika membaca Al-Quran:

Pertama, adalah agar kita merenungkan ayat-ayatnya dan mengambil pelajaran-pelajaran yang ada di dalamnya.

كِتَٰبٌ أَنزَلۡنَٰهُ إِلَيۡكَ مُبَٰرَكٞ لِّيَدَّبَّرُوٓاْ ءَايَٰتِهِۦ وَلِيَتَذَكَّرَ أُوْلُواْ ٱلۡأَلۡبَٰبِ ٢٩

(Al-Qur’an ini adalah) kitab yang Kami turunkan kepadamu (Nabi Muhammad) yang penuh berkah supaya mereka menghayati ayat-ayatnya dan orang-orang yang berakal sehat mendapat pelajaran.


[QS. Ṣād (38): 29]

Kedua, adalah agar kita menjadikan ayat-ayatnya sebagai petunjuk dan pedoman agar kita mampu membedakan antara yang hak dan batil.

شَهۡرُ رَمَضَانَ ٱلَّذِيٓ أُنزِلَ فِيهِ ٱلۡقُرۡءَانُ هُدٗى لِّلنَّاسِ وَبَيِّنَٰتٖ مِّنَ ٱلۡهُدَىٰ وَٱلۡفُرۡقَانِۚ

Bulan Ramadan adalah (bulan) yang di dalamnya diturunkan Al-Qur’an sebagai petunjuk bagi manusia dan penjelasan-penjelasan mengenai petunjuk itu serta pembeda (antara yang hak dan yang batil).


[QS. Al-Baqarah (2): 185]

Ketiga, adalah agar kita menjadikan ayat-ayatnya sebagai peringatan dan pelajaran bagi diri kita.

كِتَٰبٌ أُنزِلَ إِلَيۡكَ فَلَا يَكُن فِي صَدۡرِكَ حَرَجٞ مِّنۡهُ لِتُنذِرَ بِهِۦ وَذِكۡرَىٰ لِلۡمُؤۡمِنِينَ ٢

(Inilah) Kitab yang diturunkan kepadamu (Nabi Muhammad), maka janganlah engkau sesak dada karenanya supaya dengan (kitab itu) engkau memberi peringatan, dan menjadi pelajaran bagi orang-orang yang beriman.


[QS. Al-A’rāf (7): 2]

Keempat, adalah agar kita menjadikan ayat-ayatnya sebagai obat penawar yang memberi ketenangan batin kita.

وَنُنَزِّلُ مِنَ ٱلۡقُرۡءَانِ مَا هُوَ شِفَآءٞ وَرَحۡمَةٞ لِّلۡمُؤۡمِنِينَ وَلَا يَزِيدُ ٱلظَّٰلِمِينَ إِلَّا خَسَارٗا ٨٢

Kami turunkan dari Al-Qur’an sesuatu yang menjadi penawar dan rahmat bagi orang-orang mukmin, sedangkan bagi orang-orang zalim (Al-Qur’an itu) hanya akan menambah kerugian.


[QS. Al-Isrā’ (17): 82]

Nah, agar kita bisa menjadikan keempat hal tersebut sebagai tujuan maka kita perlu memahami kandungan maknanya. Mustahil hal tersebut terwujud tanpa memahami kandungan maknanya. Maka dari itu, mempelajari Al-Quran beserta kandungan maknanya sangatlah penting. Sebab, Al-Quran diturunkan bukan hanya untuk dibaca dan dihafalkan tanpa dipahami maknanya, apalagi dijadikan seperti “nyanyian”.

B. Apa Kitab Tafsir yang Akan Kita Gunakan Pada Kajian Tafsir Kali Ini?

Untuk memahami kandungan makna ayat-ayat dalam Al-Quran, maka kita harus mengkaji kitab tafsir. Mengapa demikian? Mengapa tidak membaca terjemahannya saja?

Membaca terjemahan Al-Quran memang dirasa cukup praktis dan simpel. Sayangnya membaca terjemahan saja tidak cukup untuk memahami Al-Quran. Buktinya, terjemah Al-Quran masih dilengkapi dengan catatan kaki agar pembaca tidak salah dalam memahami teks terjemahan. Meskipun demikian, membaca terjemahan itu masih lebih baik dari pada tidak membacanya sama sekali. Namun, akan lebih baik jika kita juga membaca dan mengkaji tafsirnya.

Adapun referensi kitab tafsir yang akan kita gunakan adalah kitab “Aisarut-Tafāsīr li Kalāmil-‘Aliyyil-Kabīr” (أيسر التفاسير لكلام العلي الكبير). Kitab ini ditulis oleh Syekh Abū Bakar bin Jābir Al-Jazāiri (w. 1439 H). Beliau adalah salah satu pengajar tafsir di halakah Masjid Nabawi pada zamannya.

Anda dapat mengunduh ebooknya di sini :

C. Mengapa Saya Memilih Kitab Ini Sebagai Referensi Utama?

Jika kita berbicara manakah kitab tafsir yang terbaik maka sudah ada ribuan atau bahkan mungkin jutaan kitab tafsir yang telah ditulis oleh para ulama. Dari sekian ribu tafsir tersebut, saya tidak mampu membaca seluruhnya apalagi memberikan penilaian manakah yang terbaik. Maka dari itu, saya mencukupkan diri dengan membaca beberapa kitab tafsir ringkas yang mudah dipelajari dengan tidak menafikan pendalaman makna dari beberapa kitab tafsir induk jika dibutuhkan. Kemudian, dari sekian tafsir yang ringkas tersebut saya memilih kitab “Aisarut-Tafāsīr” sebagai referensi utama dalam kajian ini karena beberapa pertimbangan sebagai berikut:

  • Pertama, kitab ini sangat mudah dipahami dan dipelajari bagi orang awam. Sesuai namanya yaitu “Aisar” yang berarti “termudah”. Kitab ini tidak ribet, to the point, tidak terlalu banyak membahas permasalahan ikhtilāf, bahasa, dan yang lain sebagainya; sehingga tujuan untuk memahami dan memahamkan umat Islam terhadap kandungan makna Al-Quran lebih mudah tercapai.
  • Kedua, kitab ini mengikuti manhaj salaf dalam bab akidah, terutama dalam bab nama-nama dan sifat-sifat Allah.
  • Ketiga, kitab ini merujuk hanya kepada fikih empat mazhab yang diakui oleh ahlus-sunnah wal-jamā’ah.
  • Keempat, kitab ini merujuk pada satu kitab induk dalam bidang tafsir yang sangat terkenal dan diakui oleh para seluruh ulama ahlus-sunnah wal-jamā’ah, yaitu tafsir Jā mi’ul-Bayān ‘an Ta'wīli Āyil-Qur'ān yang ditulis oleh imam Aṭ-Ṭabāri.

Demikianlah kata pengantar kajian tafsir pada kesempatan kali ini. Semoga Allah mudahkan kita dalam memahami dan mengamalkan ayat-ayat dalam Al-Quran.