Mengenal Beberapa Istilah-istilah Dasar dalam Al-Quran

Istilah-istilah Dasar dalam Al-Quran

Pada kesempatan kali ini, kita akan mempelajari tafsir surat Al-Fatihah dari kitab “Aisarut-Tafāsīr li Kalāmil-‘Aliyyil-Kabīr” (أيسر التفاسير لكلام العلي الكبير) yang ditulis oleh Syekh Abū Bakar bin Jābir Al-Jazāiri (w. 1439 H). Pada bagian awal kitab, penulis memaparkan sekilas informasi tentang Al-Fatihah dan pengertian dari istilah-istilah dasar dalam Al-Quran.

A. Informasi Sekilas Tentang Surat Al-Fatihah

بِسۡمِ ٱللَّهِ ٱلرَّحۡمَٰنِ ٱلرَّحِيمِ ١ ٱلۡحَمۡدُ لِلَّهِ رَبِّ ٱلۡعَٰلَمِينَ ٢ ٱلرَّحۡمَٰنِ ٱلرَّحِيمِ ٣ مَٰلِكِ يَوۡمِ ٱلدِّينِ ٤ إِيَّاكَ نَعۡبُدُ وَإِيَّاكَ نَسۡتَعِينُ ٥ ٱهۡدِنَا ٱلصِّرَٰطَ ٱلۡمُسۡتَقِيمَ ٦ صِرَٰطَ ٱلَّذِينَ أَنۡعَمۡتَ عَلَيۡهِمۡ غَيۡرِ ٱلۡمَغۡضُوبِ عَلَيۡهِمۡ وَلَا ٱلضَّآلِّينَ ٧

1. Dengan nama Allah Yang Maha Pengasih lagi Maha Penyayang. 2. Segala puji bagi Allah, Tuhan semesta alam 3. Yang Maha Pengasih lagi Maha Penyayang, 4. Pemilik hari Pembalasan. 5. Hanya kepada Engkaulah kami menyembah dan hanya kepada Engkaulah kami memohon pertolongan. 6. Bimbinglah kami ke jalan yang lurus, 7. (yaitu) jalan orang-orang yang telah Engkau beri nikmat, bukan (jalan) mereka yang dimurkai dan bukan (pula jalan) orang-orang yang sesat.

Syekh Abū Bakar Al-Jazāiri berkata:

سورة الفاتحة وهي مكية وآياتها سبع

Surat Al-Fatihah merupakan surat Makkiyyah dan jumlah ayat-ayatnya ada tujuh.

Penjelasan:

Pada bagian ini, Syekh Abu Bakar menginformasikan kepada kita tentang surat yang akan beliau paparkan tafsirnya, yaitu surat Al-Fatihah. Beliau juga menginformasikan bahwa surat Al-Fatihah merupakan kategori surat Makkiyyah. Meskipun ada juga yang berpendapat bahwa Al-Fatihah merupakan kategori surat Madaniyyah, dalam hal ini Syekh Abu Bakar memilih Makkiyyah.

Kemudian, beliau menginformasikan bahwa jumlah ayat dalam surat Al-Fatihah adalah tujuh. Jumlah ayat dalam surat Al-Fatihah adalah perkara yang disepakati oleh para ulama. Hanya saja para ulama berbeda pendapat mengenai basmalah apakah termasuk ayat pertama surat Al-Fatihah ataukah bukan.

B. Istilah-istilah Dasar dalam Al-Quran

Sebelum membahas tafsir Al-Fatihah lebih mendalam, Syekh Abū Bakar Al-Jazāiri menjelaskan beberapa istilah-istilah dasar dalam Al-Quran yang perlu kita ketahui yaitu: Tafsir, Surat, Al-Fatihah, Makkiyyah (dan Madaniyyah), dan juga Ayat.

1. Apa Itu Tafsir?

Syekh Abū Bakar Al-Jazāiri berkata:

التفسير: لغة الشرح والبيان. واصطلاحاً: شرح كلام الله ليُفهم مُرادُه تعالى منه فيطاع في أمره ونهيه، ويؤخذ بهدايته وإرشاده. ويُعتبر بقصصه، ويتعظ بمواعظه.

Tafsir secara bahasa berarti penjelasan dan keterangan. Secara istilah, tafsir adalah penjelasan firman Allah (Al-Quran) agar maksud Allah ta’āla darinya dapat dipahami, sehingga Dia ditaati dalam perintah dan larangan-Nya, diambil petunjuk dan bimbingan-Nya, dijadikan pelajaran melalui kisah-kisahnya, serta diambil hikmah melalui nasihat-nasihatnya.

Penjelasan:

  • Tafsir adalah penjelasan terhadap firman Allah (Al-Quran) yang dengan tafsir tersebut seseorang dapat memahami maksud dari firman Allah.
  • Al-Quran adalah firman (ucapan) Allah ta’āla, bukan makhluk (ciptaan).
  • Tafsir adalah sarana untuk memahami makna ayat-ayat dalam Al-Quran.
  • Tujuan memahami firman Allah adalah untuk menaati perintah dan menjauhi larangan-Nya, mengambil petunjuk dan bimbingan-Nya, menjadikan kisah-kisah-Nya sebagai pelajaran, dan mengambil hikmah dari nasihat-nasihat-Nya.
  • Di dalam Al-Quran terdapat perintah dan larangan Allah, petunjuk dan bimbingan-Nya, kisah-kisah yang mengandung pelajaran, serta nasehat-nasehat dari-Nya.

2. Apa Itu Surat?

Syekh Abū Bakar Al-Jazāiri berkata:

السورة: السورة قطعة من كتاب الله تشتمل على ثلاث آيات فأكثر. وسور القرآن الكريم مائة وأربع عشرة سورة أطولها البقرة وأقصرها الكوثر

Surat adalah bagian dari Al-Quran yang mencakup tiga ayat atau lebih. Surat-surat dalam Al-Quran berjumlah 114 surat; yang terpanjang adalah “Al-Baqarah” dan yang terpendek adalah “Al-Kauṡar”.

Penjelasan:

  • Al-Quran terdiri dari beberapa bagian yang setiap bagian tersebut disebut dengan istilah “surat”, contoh: surat Al-Fatihah, surat Al-Baqarah, surat Ali Imran, dan lain sebagainya.
  • Tiga ayat adalah jumlah ayat paling sedikit dalam satu surat. Ada tiga surat yang berjumlah tiga ayat dalam Al-Quran, yaitu Al-‘Aṣr, Al-Kauṡar, dan An-Naṣr.
  • Jumlah surat di dalam Al-Quran adalah 114 surat. Surat yang pertama adalah surat Al-Fatihah dan yang terakhir adalah surat An-Naas.
  • Surat terpanjang di dalam Al-Quran adalah surat Al-Baqarah yang terdiri dari 286 ayat menurut pendapat yang masyhur.
  • Surat terpendek di dalam Al-Quran adalah surat Al-Kauṡar yang terdiri dari tiga ayat dan jumlah hurufnya adalah 42 huruf.

3. Mengenal Al-Fatihah

Syekh Abū Bakar Al-Jazāiri berkata:

الفاتحة: فاتحة لكل شيء بدايته. وفاتحة القرآن الكريم الحمد لله رب العالمين ولذا سميت الفاتحة. ولها أسماء كثيرة منها أم القرآن، والسبع المثاني، وأم الكتاب، والصلاة.

Al-Fatihah: Fatihah (pembuka) segala sesuatu adalah permulaannya. Dan pembuka Al-Qur'ānul-Karīm adalah al-ḥamdu lillāhi rabbil-‘ālamīn, oleh karena itu ia dinamakan Al-Fatihah. Ia memiliki banyak nama, di antaranya: Ummul-Qur'ān, As-Sab’ul Maṡāni, Ummul-Kitāb, dan Aṣ-Ṣalah.

Penjelasan:

Al-Fatihah sendiri secara bahasa artinya adalah permulaan atau pembukaan. Surat Al-Fatihah dinamai demikian karena posisinya sebagai pembuka dalam Al-Quran. Selain itu, surat Al-Fatihah juga merupakan surat pembuka dalam salat.

Para ulama qiraat berbeda pendapat mengenai ayat pertama dalam surat Al-Fatihah. Sebagian berpendapat bahwa بِسْمِ اللَّهِ الرَّحْمَنِ الرَّحِيمِ adalah ayat pertama, sedangkan yang lain berpendapat bahwa ayat pertamanya adalah الْحَمْدُ لِلَّهِ رَبِّ الْعَالَمِينَ. Dalam hal ini, Syekh Abū Bakar Al-Jazāiri memilih pendapat الْحَمْدُ لِلَّهِ رَبِّ الْعَالَمِينَ sebagai ayat pertama dalam surat Al-Fatihah sekaligus ayat pembuka dalam Al-Quran. Berdasarkan sabda Rasulullah ṣallallāhu ‘alaihi wasallam:

قَالَ اللهُ تَعَالَى: ‌قَسَمْتُ ‌الصَّلَاةَ بَيْنِي وَبَيْنَ عَبْدِي نِصْفَيْنِ وَلِعَبْدِي مَا سَأَلَ. فَإِذَا قَالَ الْعَبْدُ: {الْحَمْدُ لِلهِ رَبِّ الْعَالَمِينَ}، قَالَ اللهُ تَعَالَى: حَمِدَنِي عَبْدِي، وَإِذَا قَالَ: {الرَّحْمَنِ الرَّحِيمِ} قَالَ اللهُ تَعَالَى: أَثْنَى عَلَيَّ عَبْدِي، وَإِذَا قَالَ: {مَالِكِ يَوْمِ الدِّينِ} قَالَ: مَجَّدَنِي عَبْدِي، وَقَالَ مَرَّةً: فَوَّضَ إِلَيَّ عَبْدِي، فَإِذَا قَالَ: {إِيَّاكَ نَعْبُدُ وَإِيَّاكَ نَسْتَعِينُ} قَالَ: هَذَا بَيْنِي وَبَيْنَ عَبْدِي وَلِعَبْدِي مَا سَأَلَ، فَإِذَا قَالَ: {اهْدِنَا الصِّرَاطَ الْمُسْتَقِيمَ * صِرَاطَ الَّذِينَ أَنْعَمْتَ عَلَيْهِمْ غَيْرِ الْمَغْضُوبِ عَلَيْهِمْ وَلا الضَّالِّينَ} قَالَ: هَذَا لِعَبْدِي وَلِعَبْدِي مَا سَأَلَ.

Allah berfirman: Aku membagi shalat antara Aku dengan hamba-Ku, dan hamba-Ku mendapatkan sesuatu yang dia minta. Apabila seorang hamba berkata, “الْحَمْدُ لِلهِ رَبِّ الْعَالَمِينَ” Maka Allah berkata, “Hamba-Ku memuji-Ku.” Apabila hamba tersebut mengucapkan, “الرَّحْمَنِ الرَّحِيمِ” Allah berkata, “Hamba-Ku menyanjung-Ku.” Apabila hamba tersebut mengucapkan, “مَالِكِ يَوْمِ الدِّينِ” Allah berkata: “Hamba-Ku mengagungkan-Ku.” Selanjutnya Dia berkata, “Hamba-Ku menyerahkan urusannya kepada-Ku.” Apabila hamba tersebut mengucapkan, “إِيَّاكَ نَعْبُدُ وَإِيَّاكَ نَسْتَعِينُ” Allah berkata, “Ini adalah antara Aku dengan hamba-Ku. Dan hamba-Ku mendapatkan sesuatu yang dia minta”. Apabila hamba tersebut mengucapkan, “اهْدِنَا الصِّرَاطَ الْمُسْتَقِيمَ * صِرَاطَ الَّذِينَ أَنْعَمْتَ عَلَيْهِمْ غَيْرِ الْمَغْضُوبِ عَلَيْهِمْ وَلا الضَّالِّينَ” Allah berkata, “Ini untuk hambaKu, dan hambaKu mendapatkan sesuatu yang dia minta”.

[HR. Muslim no. 395]

Jika mengacu pada pendapat ini maka ayat enam dalam surat Al-Fatihah adalahصِرَاطَ الَّذِينَ أَنْعَمْتَ عَلَيْهِمْ sedangkan ayat tujuhnya adalah غَيْرِ الْمَغْضُوبِ عَلَيْهِمْ وَلَا الضَّالِّينَ.

Surat Al-Fatihah memiliki banyak nama, di antaranya:

  • Pertama, Ummul-Qur'ān yang berarti induk Al-Quran.
  • Kedua, As-Sab’ul-Maṡāni yang berarti tujuh yang diulang-ulang (dalam salat).
  • Ketiga, Ummul-Kitab yang berarti induk Al-Kitab. Dinamai demikian karena makna yang terkandung di dalam surat ini meliputi seluruh perkara pokok dalam Al-Quran; yakni akidah, ibadah, dan kisah-kisah.
  • Keempat, Aṣ-Ṣalāh yang berarti salat.

Penamaan tersebut adalah berdasarkan dua hadis berikut ini:

{الْحَمْدُ لِلَّهِ رَبِّ الْعَالَمِينَ} ‌أمُّ ‌القرآن، وأمُّ الكتاب، والسبْعُ المثاني

“Alhamdu lillahi rabbil-‘alamin” (Al-Fatihah) adalah Ummul-Qur'ān, As-Sab’ul Maṡāni, Ummul-Kitāb.

[HR. Abu Dawud: 1457]

قَالَ اللهُ تَعَالَى: ‌قَسَمْتُ ‌الصَّلَاةَ بَيْنِي وَبَيْنَ عَبْدِي نِصْفَيْنِ وَلِعَبْدِي مَا سَأَلَ.

Allah berfirman: Aku membagi salat (Al-Fatihah) antara Aku dengan hamba-Ku, dan hamba-Ku mendapatkan sesuatu yang dia minta.

[HR. Muslim no. 395]

Selain nama-nama di atas, masih ada lagi nama-nama yang lainnya. Hanya saja, nama-nama lain yang terdapat dalam hadis sahih hanyalah keempat nama tersebut.

4. Apa Itu Makkiyyah dan Madaniyyah?

Syekh Abū Bakar Al-Jazāiri berkata:

مكية: المكي من السور: ما نزل بمكة، والمدني منه ما نزل بالمدينة. والسور المكية غالبها يدور على بيان العقيدة وتقريرها والاحتجاج بها وضرب المثل لبيانها وتثبيتها. وأعظم أركان العقيدة: توحيد الله تعالى في عبادته، وإثبات نبوة رسول الله صلى الله عليه وسلم، وتقرير مبدأ المعاد والدار الآخرة. والسور المدنية يكثر فيها التشريع وبيان الأحكام من حلال وحرام.

Surah Makkiyyah adalah surah yang turun di Makkah, sedangkan Madaniyyah adalah yang turun di Madinah. Surah-surah Makkiyah mayoritas berkisar pada penjelasan akidah, penetapannya, argumentasinya, serta pemberian perumpamaan untuk menjelaskan dan menguatkannya. Rukun akidah yang paling agung adalah: mentauhidkan Allah ta’āla dalam ibadah, menetapkan kenabian Rasulullah ṣallallāhu ‘alaihi wasallam, serta menetapkan prinsip hari kebangkitan dan negeri akhirat. Adapun surah-surah Madaniyyah lebih banyak berisi tentang syariat serta penjelasan hukum-hukum halal dan haram.

Penjelasan:

Surat-surat dalam Al-Quran terbagi menjadi dua kategori, yaitu Makkiyyah dan Madaniyyah. Ada tiga pendapat mengenai definisi Makkiyyah dan Madaniyyah:

  • Pendapat pertama, Makkiyyah adalah yang diturunkan sebelum hijrah ke Madinah, sedangkan Madaniyyah adalah yang diturunkan setelah hijrah ke Madinah.
  • Pendapat kedua, Makkiyyah adalah yang diturunkan di Mekah dan sekitarnya, sedangkan Madaniyyah adalah yang diturunkan di Madinah dan sekitarnya.
  • Pendapat ketiga, Makkiyyah adalah yang seruannya ditujukan kepada penduduk Mekah, sedangkan Madaniyyah adalah yang seruannya ditujukan kepada penduduk Madinah.

Dari ketiga pendapat tersebut, tampaknya Syekh Abu Bakar Al-Jazāiri memilih pendapat yang kedua.

Makkiyyah memiliki ciri khas baik itu dari segi pembahasannya maupun gaya bahasanya. Dalam kitabnya, Syekh Abu Bakar Al-Jazāiri hanya menyebutkan ciri dari segi pembahasan yang sering dibahas, yaitu berkisar tentang akidah, penetapan, argumentasi pembuktian, dan perumpamaan untuk menjelaskan dan menguatkannya. Rukun yang paling agung ada tiga:

  • Mentauhidkan Allah dalam Ibadah.
  • Menetapkan Muhammad ṣallallāhu ‘alaihi wasallam sebagai Nabi dan utusan Allah.
  • Mengimani hari kebangkitan dan negeri akhirat.

Selain pembahasan tentang akidah, Makkiyyah juga membahas tentang kisah para Nabi dan umat-umat terdahulu, akhlak mulia, sikap pengingkaran yang tegas terhadap kejahatan orang-orang musyrik yang suka membunuh, memakan harta anak yatim, dan tradisi buruk lainnya.

Adapun dari segi gaya bahasa, kalimatnya singkat padat disertai dengan kata-kata yang sangat berkesan, menembus telinga dan terdengar keras, menggetarkan hati, dan maknanya sangat meyakinkan dengan didukung oleh ucapan sumpah seperti pada surat-surat pendek.

Madaniyyah pun demikian juga memiliki ciri khas dari segi pembahasan dan gaya bahasanya. Syekh Abu Bakar menyebutkan bahwa pembahasan paling banyak pada Madaniyyah berkisar pada syariat serta penjelasan hukum-hukum halal dan haram, contoh: ibadah wudu, salat, makanan dan minuman, pernikahan, perceraian, hubungan sosial, hubungan internasional, dan lain sebagainya.

Selain pembahasan syariat, Madaniyyah juga membahas seruan terhadap Ahli Kitab untuk masuk Islam, menyingkap perilaku orang munafik dan membongkar kedok mereka serta bahaya mereka terhadap agama. Adapun dari segi gaya bahasa, Madaniyyah cenderung panjang ayat-ayatnya dengan gaya bahasa yang rinci untuk menjelaskan syariat dan tujuannya.

5. Apa Itu Ayat?

الآيات: جمع آية وهي لغةً: العلامة. وفي القرآن: جملة من كلام الله تعالى تحمل الهدي للناس بدلالتها على وجود الله تعالى وقدرته وعلمه، وعلى نبوة محمد صلى الله عليه وسلم ورسالته. وآيات القرآن الكريم ست آلاف ومائتا آية وزيادة. وآيات الفاتحة سبع بدون البسملة.

Al-Āyāt adalah bentuk jamak dari āyah, secara bahasa berarti tanda. Dalam Al-Quran: ayat sekumpulan kata dari firman Allah ta’āla yang membawa petunjuk bagi manusia yang menunjukkan keberadaan Allah ta’āla, kekuasaan-Nya, ilmu-Nya, serta menunjukkan kenabian Muhammad ṣallallāhu ‘alaihi wasallam dan risalahnya. Ayat-ayat Al-Quranul-Karim berjumlah 6.200-an ayat lebih. Adapun ayat surah Al-Fatihah berjumlah tujuh ayat tanpa menyertakan Basmalah (dalam hitungan ini).

Penjelasan:

Ayat adalah sejumlah kata dari firman Allah yang di dalamnya terdapat petunjuk. Ayat-ayat dalam Al-Quran adalah petunjuk yang mendorong akal kita untuk tafakur dan merenung. Jika kita membaca ayat-ayat dalam Al-Quran dengan disertai tafakur dan merenungkannya maka kita akan memperoleh petunjuk mengenai keberadaan Allah, kekuasaan, dan juga keluasan ilmu-Nya, serta kebenaran kenabian Muhammad ṣallallāhu ‘alaihi wasallam dan risalah yang beliau bawa.

Jumlah ayat dalam Al-Quran lebih dari 6200-an ayat. Syekh Abu Bakar Al-Jazāiri tidak menyebutkan jumlah enam ribu sekian-sekian karena terdapat perbedaan pendapat para ulama mengenai jumlah ayat dalam Al-Quran. Yang jelas, para ulama sepakan bahwa jumlah ayat dalam Al-Quran lebih dari 6200 ayat. Pada catatan kaki disebutkan: الزيادة تتراوح ما بين أربع آيات إلى أربعين آية على خلاف بين القراء, yang artinya : “tambahan (jumlah ayat) tersebut berkisar antara empat ayat hingga empat puluh ayat, berdasarkan perbedaan pendapat di antara para ulama ahli qiraat.” Artinya, perbedaan para ulama qiraat mengenai jumlah ayat dalam Al-Quran berkisar antara 6204 sampai 6240 ayat.

Agar lebih jelas, mari kita perhatikan uraian berikut ini:

Jika kita perhatikan mushaf Al-Quran yang biasa kita gunakan maka kita akan mendapati jumlah ayatnya adalah 6236. Perhitungan jumlah ayat pada mushaf tersebut adalah berdasarkan qiraat imam Hafṣ ‘an ‘Āṣim. Jika kita mempelajari mushaf qiraat lain, misalkan qiraat imam Warsy ‘an Nāfi’, maka kita akan mendapati jumlah ayatnya adalah 6214. Hal ini terjadi karena perbedaan dalam menghitung suatu ayat. Perhatikan contoh berikut ini:

Pada qiraat imam Hafṣ ‘an ‘Āṣim, ayat pada surat Al-Baqarah berikut ini dihitung sebagai dua ayat:

الٓمٓ ١ ذَٰلِكَ ٱلۡكِتَٰبُ لَا رَيۡبَۛ فِيهِۛ هُدٗى لِّلۡمُتَّقِينَ ٢

Namun, dalam qiraat imam Warsy ‘an Nāfi’, kedua ayat tersebut dihitung sebagai satu ayat:

أَلَٓمِّٓۖ ذَٰلِكَ اَ۬لْكِتَٰبُ لَا رَيْبَۖ فِيهِ هُديٗ لِّلْمُتَّقِينَ ١

Berdasarkan perbedaan perhitungan inilah para ulama menjadi berbeda pendapat mengenai jumlah ayat dalam Al-Quran.

Adapun jumlah ayat dalam surat Al-Fatihah adalah tujuh ayat menurut kesepakatan para ulama. Namun, para ulama berbeda pendapat apakah basmalah termasuk bagian dari surat Al-Fatihah ataukah tidak. Dalam hal ini, Syekh Abu Bakar memilih pendapat basmalah bukan bagian dari Al-Fatihah berdasarkan dalil hadis qudsi yang telah dijelaskan sebelumnya.

Referensi

  • Aisarut-Tafāsīr li Kalāmil-‘Aliyyil-Kabīr oleh Abū Bakar bin Jābir Al-Jazāiri
  • Al-Itqān fi Ulūmil-Qur'ān oleh Jalālud-Dīn As-Suyūṭi
  • Mabāhiṡ fi Ulūmil-Qur'ān oleh Mannā‘al-Qaṭṭān